Articles by "Ekonomi"

Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan


 Murah: Masyarakat antusias membeli beras murah yang digelar BI Sumbar dan Bulog di Pasar Raya Padang Selasa (20/1)


Padang, BeritaoneBank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Sumatera Barat menggelar kegiatan penukaran uang Rupiah yang dipadukan dengan program beras murah di Blok III Pasar Raya Padang, Selasa (20/1). Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, hingga Rabu (21/1) dan disambut antusias oleh ratusan warga serta pedagang.

Program yang digelar pukul 09.00 hingga 12.00 tersebut bertujuan memberikan kemudahan akses uang layak edar sekaligus membantu masyarakat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga terjangkau. Terutama pascabencana alam yang berdampak pada stabilitas harga di sejumlah wilayah Sumatera Barat.

Deputi Kepala Perwakilan BI Sumatera Barat, Andy Setyo Biwado mengatakan, masyarakat bebas menukarkan uang dalam nominal berapa pun. Layanan ini mencakup penukaran uang lusuh dengan uang baru, penukaran pecahan besar ke kecil, maupun sebaliknya.

“Ini merupakan kegiatan penukaran uang, baik uang yang lusuh atau dari nominal besar ke kecil, maupun sebaliknya. Setelah menukar uang, masyarakat akan mendapatkan voucer beras senilai Rp25 ribu,” ujar Andy, Selasa (20/1).

Voucer tersebut dapat langsung digunakan untuk membeli beras di stan Perum Bulog yang disediakan di lokasi kegiatan. BI Sumbar bekerja sama dengan Bulog menyediakan dua jenis beras, yakni beras Suntiang dan beras Setra Ramos pulen, masing-masing dalam kemasan 5 kilogram.

Harga normal beras tersebut sebesar Rp 77 ribu per karung. Dengan adanya voucer diskon dari BI, masyarakat cukup membayar Rp 52 ribu. Menurut Andy, skema ini dirancang untuk membantu menekan beban pengeluaran masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga pangan.

“Harga beras cenderung naik pascabencana alam di beberapa daerah. Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu masyarakat mendapatkan beras berkualitas dengan harga di bawah pasar,” jelasnya.

Untuk mendukung kelancaran transaksi, BI Sumbar menyiapkan uang tunai senilai total Rp 1,8 miliar selama dua hari pelaksanaan. Setiap harinya, disiapkan Rp 900 juta dengan pecahan mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 20.000 guna memenuhi kebutuhan uang kecil para pedagang.

Selama dua hari kegiatan, tersedia total 500 karung beras ukuran 5 kilogram, terdiri dari 300 karung beras Suntiang dan 200 karung beras Setra Ramos pulen. Stok tersebut dibatasi setiap harinya agar distribusi melalui voucer dapat merata.

Antusiasme warga terlihat sejak pagi, dengan antrean yang mengular di area penukaran uang. Lokasi Pasar Raya dipilih karena merupakan pusat aktivitas ekonomi, khususnya bagi pedagang yang membutuhkan uang pecahan kecil untuk transaksi harian.

Salah seorang pedagang Pasar Raya Padang, Isaf, 52, mengaku sangat terbantu dengan program tersebut. “Saya sangat antusias. Bisa menukarkan uang besar jadi kecil, itu sangat membantu untuk uang kembalian pembeli,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi adanya voucer beras dan souvenir dari BI. “Selain urusan uang beres, saya juga bisa bawa pulang beras. Semoga kegiatan seperti ini sering dilakukan,” tambahnya.

(yan)


 Bahas ekonomi: Suasana Dialog Ekonomi Sumbar bertajuk Peluang dan Tantangan Ekonomi Sumbar 2026 di Kantor Bank Indonesia Sumbar Jalan Sudirman Padang, Senin (19/1). 

 

Padang, Beritaone—Pertumbuhan ekonomi (PE) Sumbar2026 diprediksi tidak akan lebih baik dari PE 2025. Pengaruh geopolitik dan bencana hidrometeorologi akhir 2025 ikut memporakporandakan kondisi ekonomi Sumbar. Padahal Bank Indonesia Sumbar memperkirakan PE Sumbar pada triwulan IV akan membaik. Namun bencana membuyarkan harapan tersebut.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar Mohammad Abdul Majid Ikram menyebutkan, PE Sumbar 2025 hanya akan berada pada 3,7 persen. Sedangkan untuk 2026 yang disebut tahun kebangkitan pascabencana, ditarget ekonomi Sumbar bakal tumbuh di kisaran 4 persen.

“Tapi kita ditargetkan oleh Bappenas 5,7 persen untuk tahun 2026. Ini jelas berat. Namun kita tetap optimis . Untuk mencapai itu diperlukan upaya ekstra dan pengembangan sektor-sektor usaha baru untuk menopang pertumbuhan ekonomi Sumbar,” ujarnya  saat Dialog Ekonomi Sumbar bertajuk Peluang dan Tantangan Ekonomi Sumbar 2026 di Kantor Bank Indonesia Sumbar Jalan Sudirman Padang, Senin (19/1).

Majid mengatakan, selain masa pemulihan pascabencana, sektor usaha baru potensial dikembangkan untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi Sumbar.

“Walau kita sedang berproses melakukan pemulihan, tapi kita juga harus mencari sumber-sumber pertumbuhan lain yang bisa mengangkat ekonomi kita. Termasuk penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.

Upaya tersebut, kata Majid, salah satunya memanfaatkan potensi perantau. Dana dari perantau yang masuk ke Sumbar selain berdampak sosial juga ekonomi. “Saya percaya sudah banyak dana-dana perantau yang masuk. Kami catat ada di angka Rp 5 triliun. Cuma efeknya lebih ke sosialnya. Dari sisi dampak ekonominya kurang besar. Gimana caranya dana-dana perantau ini kita mobilisir, kita satukan untuk pembangunan ekonomi,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, Sumbar butuh driver ekonomi yang bisa menaikkan ekonomi lebih tinggi . Misalnya mengembangkan industri data center. “Data center ini sekarang lagi happening, tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Kalau kita lihat sekarang Kepri itu pertumbuhannya sangat tinggi,  salah satunya didukung oleh bisnis data center,” ujarnya.  

Majid melihat bisnis data center tidak membutuhkan lahan yang luas. Cuma investasinya butuh suplay listrik yang cukup besar. Tapi diyakini PLN mampu memenuhinya.

“Jadi kita harus cari, apa kira-kira yang bisa menaikkan ekonomi  kita. Sehingga harapan pemerintah pusat kita bisa tumbuh 5,7 persen untuk 2026 bisa kita wujudkan. Saya optimis bisa kalau kita mau sama-sama,” ujarnya.

Selain itu, masa pemulihan pascabencana juga potensi menaikkan ekonomi Sumbar. Ini kalau proses pemulihan bisa cepat, misal selesai di triwulan II 2026, maka di triwulan III, ekonomi bisa langsung naik.

 “Ini yang harus kita kawal agar tak mundur lagi. Bank Indonesia nanti juga secara rutin akan berdiskusi, kami akan minta informasi dari pemerintah pusat tracking dari proses pembangunan infrastruktur. Baik infrastruktur pendukung seperti jalan dan tak kalah penting adalah infrastruktur pertanian,” ucapnya. 

Majid menyebut, pihaknya akan mengundang Kementerian Pertanian untuk mengetahui program untuk pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana. “Kalau lahan yang rusak ringan dan menengah, mudah-mudahan pemulihan tidak terlalu lama. Tapi yang butuh waktu lama adalah lahan yang rusak berat. Berapa lama proses pemulihannya. Kalau terlalu lama, produksi tentu lama balik lagi. Kemudian bagaimana cara menaikkan produktivitas. Kita ini produktivitasnya masih 5 ton sementara di Jawa 8 sampai 10 ton. Ini harus kita kejar. Makanya BI punya program-program, pemerintah daerah juga punya program ,” pungkasnya. (yan)

 


 Pulen: Nasi goreng dari beras pulen Setra Ramos tak kalah enak dibandingkan beras pera.

 

 Masyarakat Indonesia tentu tak asing dengan nasi goreng. Menu sarapan yang enak dan praktik. Baik dimasak sendiri maupun beli di warung sarapan pagi. Nasi goreng orang Minang lazim menggunakan beras lokal Sumbar. Nasinya kering atau tidak lengket seperti beras pulen. Nah, apa jadinya jika beras pulen yang dibikin nasi goreng? 

 “Wah, ternyata enak juga. Nasinya lebih lembut,” ujar Hindra, 45, setelah mencicipi nasi goreng berbahan beras pulen merek Setra Ramos, Rabu (154/1). Apalagi nasi goreng tersebut sedikit diberi bumbu rendang. Jadi rasanya makin nendang.  Ditambah topping telur dadar iris, sayur timun plus tomat makin maknyus. “Tanpa perlu dikasih saos sambal lagi sudah enak,” ucapnya sembari melahap habis sepiring nasi goreng tersebut. Hindra tak keberatan jika istrinya sering-sering bikin nasi goreng beras Setra Ramos untuk sarapan pagi.

Beras pulen tersebut hendak dicoba dimasyarakatkan di Sumbar. Walau masyarakat Sumbar sudah terbiasa mengkonsumsi beras pera yang nasinya bederai  sejak turun temurun, namun diharap beras pulen bisa disukai masyarakat Sumbar. Apalagi produksi beras Sumbar tergerus oleh bencana sementara permintaan makin meningkat, termasuk dari luar Sumbar. Perlu beras alternatif untuk menekan kenaikan harga beras lokal Sumbar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar Mohammad Abdul Majid Ikram menyampaikan, pihaknya mencoba memperkenalkan beras pulen Setra Raos untuk dikonsumsi masyarakat Sumbar. Karena menurutnya beras pulen juga tak kalah enak dan bisa diterima lidah urang awak.

“Kami perkenalkan beras pulen Setra Ramos, mudah-mudahan bisa disukai masyarakat kita,” ujarnya kepada wartawan di Padang, pekan lalu.

Produksi Padi Terdampak Bencana

Majid mengatakan, Bank Indonesia juga bertugas untuk mengendalikan harga pangan. “Mau tak mau harus  berupaya mendukung peningkatan produksi pangan. Kami banyak mengembangkan klaster-klaster produk pertanian seperti sekolah DAUN dan program lainnya,” ujarnya.

Majid mengatakan, cuaca ekstrem berdampak kepada ketersediaan bahan pangan, seperti pada Agustus 2025 lalu. Kondisi ini menyebabkan naiknya harga komoditi beras, bawang merah dan cabai. “Tiga komoditas besar itu yang menyumbang inflasi pada bukan Agustus meningkat,” ujarnya.

Majid menambahkan, cuaca ekstrem menyebabkan pola tanam jadi berubah. Tanaman cabai dan padi di Sumbar tidak bertahan karena faktor cuaca. Ini menyebabkan penurunan produksi tiga komoditas utama itu.

Ia mengatakan, pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan HET, terutama untuk  beras di angka Rp 12.500 per kilogram kemudian naik ke Rp 13.500 per kilogram. “Namun demikian beras kita ini agak berbeda. Kebijakan HET tidak berdampak kepada harga beras kita (beras lokal Sumbar, red),” ujarnya.

Majid juga mengatakan, beras lokal Sumbar belakangan juga dikirim ke luar Sumbar seperti ke Riau dan Jakarta, untuk memenuhi permintaan rumah makan Padang yang ada di daerah tersebut.

“Yang menjadi tantangan sekarang adalah beras kita ini mulai diekspor ke luar, terutama ke Riau maupun ke Jakarta. Karena rumah makan Padang di sana mulai banyak mengimpor beras dari wilayah kita. Sementara produksinya relatif terbatas bahkan terjadi penurunan,” ungkapnya.

Dampak bencana hidrometeorologi akhir 2025 dan awal 2026 juga menyebabkan berkurangnya lahan pertanian, terutama padi. “Setelah kami lakukan kajian luas lahan kita terjadi penurunan, sekitar 30 ribu ton, terutama produksi padi akan hilang,” ucap Majid. (yan)


 Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram

 

Padang, Beritaone—Meski pesimis, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram tetap menargetkan pertumbuhan ekonomi (PE) Sumbar 2026 bisa mencapai 4 persen.

“Kita agak pesimis, tapi mudah-mudahan bisa di angka 4 persen,” ujarnya saat  Media Briefing Awal Tahun 2026 dengan Tema: Overview Perekonomian 2925 dan Outlook Perekonomian 2026, di salah satu restoran di Padang, Senin (5/1).

Majid mengatakan, pada periode akhir 2025, diharapkan ada lonjakan permintaan pada momen Natal dan Tahun Baru. Namun karena terjadi bencana meteorologi permintaan jadi menurun.

“Sehingga kami melakukan revisi pada pertumbuhan ekonomi 2025, maksimal hanya 4 persen. Bahkan bisa lebih rendah di angka 3,3 persen,” ujarnya.

 Sementara untuk mencapai PE 4 persen tahun ini, BI berkomitmen ikut mendorong pemulihan lahan pertanian terdampak bencana dan UMKM agar bisa bangkit kembali.

“Yang utama harus dilakukan pemulihan. Terutama di sektor pertanian dan infrastruktur pendukung. Kemudian sektor UMKM. BI sendiri juga punya program pengembangan UMKM untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Kami juga akan mengajak lembaga-lembaga yang lain termasuk BUMN untuk sama-sama bekerjasama mengembalikan sektor UMKM, terutama di kabupaten-kabupaten, termasuk di Kota Padang untuk bisa bangkit kembali,” ujarnya.

Majid mengatakan, ini adalah tugas berat yang harus dipikul bersama untuk mencapai PE Sumbar 4 persen pada 2026.

Inflasi Ditarget 2,5 Persen

Mohamad Abdul Madjid Ikram mengatakan, inflasi Sumbar masih terkendali hingga Juli 2025. Namun, tren kenaikan mulai terjadi sejak Agustus seiring munculnya bencana akibat cuaca ekstrem.

Ia menjelaskan, cuaca ekstrem yang berlangsung hingga akhir tahun menyebabkan berbagai gangguan di sektor pangan. Terutama terjadinya gagal panen di sejumlah daerah dan naiknya biaya distribusi akibat bencana.  Kondisi tersebut kemudian mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas utama.

“Awalnya kenaikan terjadi pada beras, kemudian bawang merah dan cabai merah. Selain itu, harga emas juga mengalami kenaikan cukup signifikan,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga emas bahkan mencapai kisaran 15 hingga 20 persen, yang turut memberi andil terhadap laju inflasi Sumbar sepanjang 2025.

Meski demikian, Bank Indonesia optimistis tekanan inflasi pada tahun mendatang dapat lebih terkendali. Untuk 2026, inflasi Sumbar diproyeksikan berada pada kisaran sasaran nasional.

“Tahun 2026, kita harapkan inflasi Sumbar jauh lebih terkendali dengan proyeksi di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen,” katanya.

Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat terus mendorong berbagai langkah pengendalian, termasuk penguatan ketahanan pangan, kelancaran distribusi, serta sinergi antarinstansi untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Kredit Alami Kontraksi

Untuk penyaluran kredit perbankan per November 2025 mengalami kontraksi di tengah meningkatnya pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK).

“Hal ini terjadi baik pada sektor korporasi maupun rumah tangga. Risiko kredit sedikit meningkat namun tetap terjaga, tercermin dari rasio NPL di bawah nilai threshold 5 persen,” ujar Majid. (b)

 

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
IKLAN