Korban Banjir Bandang Padang Trauma, Minta Kepastian Relokasi


Rusak: Kondisi rumah Hendri Syaputra, warga Kampung Apa Kelurahan Koto Panjang, Ikur Koto, Kecamatan Kototangah, Kota Padang pascabanjir  bandang akhir November 2025 lalu.

 

Langit mendung kini tak lagi dimaknai sebagai tanda turunnya hujan biasa bagi Hendri Syaputra, 40, warga Kampung Apa Kelurahan Koto Panjang, Ikur Koto, Kecamatan Kototangah, Kota Padang. Sejak banjir bandang melanda kawasan tersebut pada 27 November 2025 lalu, suara gemuruh sungai menjadi ancaman yang menumbuhkan kecemasan mendalam bagi warga yang tinggal di bantaran sungai.

Hendri mengenang, hujan memang telah turun hampir tanpa henti selama sekitar sepuluh hari sebelum bencana terjadi. Namun pada malam sebelum kejadian, debit air sungai masih tampak normal meski naik turun. Bencana justru datang secara tiba-tiba saat waktu Subuh.

“Kejadiannya tanggal 27 November, tepat saat Subuh. Air langsung datang dalam skala besar secara tiba-tiba,” ujar Hendri saat ditemui, Selasa (6/1).

Menurutnya, proses naiknya air hingga berubah menjadi banjir bandang berlangsung sangat cepat, hanya sekitar 15 menit. Derasnya arus membuat warga tidak sempat menyelamatkan harta benda.

Saat air mulai menerjang, Hendri sempat berupaya menyelamatkan mobil miliknya. Namun derasnya arus menghantam pintu dan jendela rumah hingga hancur. Ia pun memilih meninggalkan kendaraan dan menggendong anaknya untuk menyelamatkan diri ke rumah mertuanya yang berada tepat di belakang rumah.

Namun, rumah tersebut juga tak luput dari terjangan banjir. Dinding rumah jebol di sisi kiri dan kanan. Dalam kondisi darurat, Hendri bersama anak sulungnya terpaksa naik ke atas genteng untuk bertahan hidup.

“Lebih kurang lima jam saya di atas genteng, sampai sekitar jam 10 atau 11 siang baru air mulai turun setinggi paha,” tuturnya.

Setelah air mulai surut, tim SAR dan relawan mengevakuasi warga yang terjebak. Namun, sekitar satu jam kemudian, gelombang banjir bandang kedua yang lebih besar kembali datang dan menghancurkan permukiman di sepanjang tepi sungai.

Menurut Hendri, gelombang kedua menjadi yang paling merusak. Sekitar 17 hingga 25 rumah dilaporkan hancur total. Selain kerugian materi, bencana tersebut juga menelan korban jiwa. Tujuh orang dilaporkan meninggal dunia, dua di antaranya, seorang balita berusia 3 tahun dan seorang ibu lansia, hingga kini masih dinyatakan hilang.

Trauma mendalam pun membekas, terutama pada anak bungsu Hendri yang kini berusia 5 tahun. Saat kejadian, sang anak sempat terseret arus sejauh sekitar dua meter sebelum berhasil diselamatkan oleh pamannya. Sejak itu, anak tersebut menunjukkan ketakutan setiap kali melihat air atau berada di tempat tinggi.

Kondisi tersebut membuat Hendri dan keluarganya enggan menempati rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) yang disediakan pemerintah di belakang Kantor Camat Kototangah.

“Anak saya trauma, dia tidak mau tinggal di tempat tinggi seperti Rusunawa karena ingat kejadian itu. Jadi kami memilih kontrak sendiri demi ketenangan keluarga,” ujarnya.

Persoalan tempat tinggal menjadi masalah serius bagi warga terdampak. Sebagian warga mengungsi ke rumah kerabat atau menyewa rumah secara mandiri karena lokasi pengungsian dipenuhi warga dari berbagai daerah terdampak, termasuk dari Kuranji dan Lubukminturun.

Hingga kini, bantuan logistik seperti selimut, kasur, dan kebutuhan pangan terus mengalir dari masyarakat, perusahaan, dan relawan. Hendri mengaku bersyukur atas bantuan tersebut. Namun, ia menilai bantuan jangka pendek belum cukup menjawab kebutuhan masa depan warga yang kehilangan tempat tinggal.

Ia berharap pemerintah dapat lebih terbuka dan komunikatif terkait rencana relokasi atau penanganan kawasan terdampak. Hendri menginginkan adanya sosialisasi langsung kepada warga agar tidak menimbulkan kebingungan dan spekulasi.

“Kalau memang ada wacana dari pemerintah, tolong sosialisasikan dengan jelas. Kumpulkan warga, jelaskan secara terbuka supaya kami tahu apa yang harus dilakukan ke depan,” pungkasnya.

Harapan tersebut menjadi suara bersama warga setempat yang kini hanya mendambakan satu hal: hidup tenang tanpa rasa cemas setiap kali hujan turun. (yan)

 

 
 

Labels:

Posting Komentar

[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
IKLAN