Pulen: Nasi goreng dari beras pulen Setra Ramos tak kalah enak dibandingkan beras pera.
Masyarakat Indonesia tentu tak asing dengan nasi goreng. Menu sarapan yang enak dan praktik. Baik dimasak sendiri maupun beli di warung sarapan pagi. Nasi goreng orang Minang lazim menggunakan beras lokal Sumbar. Nasinya kering atau tidak lengket seperti beras pulen. Nah, apa jadinya jika beras pulen yang dibikin nasi goreng?
“Wah, ternyata enak juga. Nasinya lebih lembut,” ujar Hindra, 45, setelah mencicipi nasi goreng berbahan beras pulen merek Setra Ramos, Rabu (154/1). Apalagi nasi goreng tersebut sedikit diberi bumbu rendang. Jadi rasanya makin nendang. Ditambah topping telur dadar iris, sayur timun plus tomat makin maknyus. “Tanpa perlu dikasih saos sambal lagi sudah enak,” ucapnya sembari melahap habis sepiring nasi goreng tersebut. Hindra tak keberatan jika istrinya sering-sering bikin nasi goreng beras Setra Ramos untuk sarapan pagi.
Beras pulen tersebut hendak dicoba dimasyarakatkan di Sumbar. Walau masyarakat Sumbar sudah terbiasa mengkonsumsi beras pera yang nasinya bederai sejak turun temurun, namun diharap beras pulen bisa disukai masyarakat Sumbar. Apalagi produksi beras Sumbar tergerus oleh bencana sementara permintaan makin meningkat, termasuk dari luar Sumbar. Perlu beras alternatif untuk menekan kenaikan harga beras lokal Sumbar.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar Mohammad Abdul Majid Ikram menyampaikan, pihaknya mencoba memperkenalkan beras pulen Setra Raos untuk dikonsumsi masyarakat Sumbar. Karena menurutnya beras pulen juga tak kalah enak dan bisa diterima lidah urang awak.
“Kami perkenalkan beras pulen Setra Ramos, mudah-mudahan bisa disukai masyarakat kita,” ujarnya kepada wartawan di Padang, pekan lalu.
Produksi Padi Terdampak Bencana
Majid mengatakan, Bank Indonesia juga bertugas untuk mengendalikan harga pangan. “Mau tak mau harus berupaya mendukung peningkatan produksi pangan. Kami banyak mengembangkan klaster-klaster produk pertanian seperti sekolah DAUN dan program lainnya,” ujarnya.
Majid mengatakan, cuaca ekstrem berdampak kepada ketersediaan bahan pangan, seperti pada Agustus 2025 lalu. Kondisi ini menyebabkan naiknya harga komoditi beras, bawang merah dan cabai. “Tiga komoditas besar itu yang menyumbang inflasi pada bukan Agustus meningkat,” ujarnya.
Majid menambahkan, cuaca ekstrem menyebabkan pola tanam jadi berubah. Tanaman cabai dan padi di Sumbar tidak bertahan karena faktor cuaca. Ini menyebabkan penurunan produksi tiga komoditas utama itu.
Ia mengatakan, pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan HET, terutama untuk beras di angka Rp 12.500 per kilogram kemudian naik ke Rp 13.500 per kilogram. “Namun demikian beras kita ini agak berbeda. Kebijakan HET tidak berdampak kepada harga beras kita (beras lokal Sumbar, red),” ujarnya.
Majid juga mengatakan, beras lokal Sumbar belakangan juga dikirim ke luar Sumbar seperti ke Riau dan Jakarta, untuk memenuhi permintaan rumah makan Padang yang ada di daerah tersebut.
“Yang menjadi tantangan sekarang adalah beras kita ini mulai diekspor ke luar, terutama ke Riau maupun ke Jakarta. Karena rumah makan Padang di sana mulai banyak mengimpor beras dari wilayah kita. Sementara produksinya relatif terbatas bahkan terjadi penurunan,” ungkapnya.
Dampak bencana hidrometeorologi akhir 2025 dan awal 2026 juga menyebabkan berkurangnya lahan pertanian, terutama padi. “Setelah kami lakukan kajian luas lahan kita terjadi penurunan, sekitar 30 ribu ton, terutama produksi padi akan hilang,” ucap Majid. (yan)


Posting Komentar