BI Sumbar Targetkan PE 4 Persen, Dorong Pemulihan Pertanian dan UMKM
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram
Padang, Beritaone—Meski pesimis, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram tetap menargetkan pertumbuhan ekonomi (PE) Sumbar 2026 bisa mencapai 4 persen.
“Kita agak pesimis, tapi mudah-mudahan bisa di angka 4 persen,” ujarnya saat Media Briefing Awal Tahun 2026 dengan Tema: Overview Perekonomian 2925 dan Outlook Perekonomian 2026, di salah satu restoran di Padang, Senin (5/1).
Majid mengatakan, pada periode akhir 2025, diharapkan ada lonjakan permintaan pada momen Natal dan Tahun Baru. Namun karena terjadi bencana meteorologi permintaan jadi menurun.
“Sehingga kami melakukan revisi pada pertumbuhan ekonomi 2025, maksimal hanya 4 persen. Bahkan bisa lebih rendah di angka 3,3 persen,” ujarnya.
Sementara untuk mencapai PE 4 persen tahun ini, BI berkomitmen ikut mendorong pemulihan lahan pertanian terdampak bencana dan UMKM agar bisa bangkit kembali.
“Yang utama harus dilakukan pemulihan. Terutama di sektor pertanian dan infrastruktur pendukung. Kemudian sektor UMKM. BI sendiri juga punya program pengembangan UMKM untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Kami juga akan mengajak lembaga-lembaga yang lain termasuk BUMN untuk sama-sama bekerjasama mengembalikan sektor UMKM, terutama di kabupaten-kabupaten, termasuk di Kota Padang untuk bisa bangkit kembali,” ujarnya.
Majid mengatakan, ini adalah tugas berat yang harus dipikul bersama untuk mencapai PE Sumbar 4 persen pada 2026.
Inflasi Ditarget 2,5 Persen
Mohamad Abdul Madjid Ikram mengatakan, inflasi Sumbar masih terkendali hingga Juli 2025. Namun, tren kenaikan mulai terjadi sejak Agustus seiring munculnya bencana akibat cuaca ekstrem.
Ia menjelaskan, cuaca ekstrem yang berlangsung hingga akhir tahun menyebabkan berbagai gangguan di sektor pangan. Terutama terjadinya gagal panen di sejumlah daerah dan naiknya biaya distribusi akibat bencana. Kondisi tersebut kemudian mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas utama.
“Awalnya kenaikan terjadi pada beras, kemudian bawang merah dan cabai merah. Selain itu, harga emas juga mengalami kenaikan cukup signifikan,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan harga emas bahkan mencapai kisaran 15 hingga 20 persen, yang turut memberi andil terhadap laju inflasi Sumbar sepanjang 2025.
Meski demikian, Bank Indonesia optimistis tekanan inflasi pada tahun mendatang dapat lebih terkendali. Untuk 2026, inflasi Sumbar diproyeksikan berada pada kisaran sasaran nasional.
“Tahun 2026, kita harapkan inflasi Sumbar jauh lebih terkendali dengan proyeksi di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen,” katanya.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat terus mendorong berbagai langkah pengendalian, termasuk penguatan ketahanan pangan, kelancaran distribusi, serta sinergi antarinstansi untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Kredit Alami Kontraksi
Untuk penyaluran kredit perbankan per November 2025 mengalami kontraksi di tengah meningkatnya pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK).
“Hal ini terjadi baik pada sektor korporasi maupun rumah tangga. Risiko kredit sedikit meningkat namun tetap terjaga, tercermin dari rasio NPL di bawah nilai threshold 5 persen,” ujar Majid. (b)



