Latest Post


 Viral: Sinkhole (tanah amblas) di persawahan warga di Nagari Situjuahbatua Kabupaten Limapuluh Kota Sumbar yang viral di media sosial akhir-akhir ini.


Fenomena tanah amblas (sinkhole) atau sawah luluih di Nagari di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota masih memantik penasaran warga. Karena viral di media sosial berhari-hari, pengunjung berdatangan dari berbagai daerah. Bahkan terlihat ada bule di lokasi melihat langsung ke lokasi.

Ramainya orang yang datang sempat memacetkan jalan ke lokasi dan membuat pemilik lahan sawah kewalahan. Lahan pertanian mereka rusak terinjak injak pengunjung. Tapi tak arus antuasias orang tak bisa dibendung. Bahkan banyak yang mengambil air sinkhole karena diyakini berkasiat obat.

Berdasarkan uji laboratorium Dinas Kesehatan setempat, air di lubang selebar sekitar 20 meter itu mengandung bakteri e-coli. Jadi berbahaya diminum langsung tanpa dimasak dulu. Air sinkhole dinilai kurang lebih sama dengan air yang mengalir di batang air lainnya. Tidak higienis.

Walau hasil uji labor air tersebut yang dilakukan tim Geologi dari Bandung belum keluar, namun untuk sementara airnya dianggap cukup aman jika digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Misalnya, untuk dikonsumsi setelah dimasak, mencuci bahan makanan, pakaian, minum ternak dan hingga irigasi.

Apalagi setelah sinkhole ditemukan sumur warga yang airnya mengalir seperti air sungai. Tidak tenang seperti  layaknya air sumur galian. Fenomena ini ditemui tak jauh dari lokasi sinkhole.  Yakni di Jorong Dalam Nagari, Nagari Situjuahtungkar, masih Kecamatan Situjuah Limo Nagari.

Menurut pemilik sumur, air sumur sudah digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan sehari-hari pascadigali pada 2002 lalu. Keunikan sumur tersebut dianggap biasa ketika itu. Soal kualitas air sempat diuji, ternyata memiliki ting kat keasaman di bawah standar. Sumurnya tidak viral karena belum ada media sosial waktu itu. Tak hanya satu sumur, tapi ada tiga yang memiliki karakter sama. Dua sumur warga dan satu sumur masjid setempat. Sebelumnya juga beredar video memperlihatkan satu lubang kecil di areal perparakan atau kebun. Tapi tidak ada airnya. Sehingga tidak begitu menarik perhatian.

Menurut para ahli, fenomena geologi yang terjadi di Limapuluh Kota tergolong unik. Berbeda dengan tanah amblas yang terjadi di pulau Jawa yang tak ada airnya. Struktur geologi tanah di daerah tersebut terbentuk dari letusan Gunung Sago di masa lampau. Dasar tanah dilapisan  bawah terdiri dari bebatuan apuang yang berongga, tidak padat. Sehingga mudah  tergerus dan jenuh kena air hujan berhari-hari. Sinkhole muncul setelah bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah di Sumbar akhir November hingga awal Desember 2025 lalu.

Struktur tanah jadi rapuh dan akhirnya amblas. Seperti sawah luluih tersebut. Karakter tanah amblas di Limapuluh Kota identik dengan terdapatnya sumber air permukaan bawah tanah.  Di kedalaman lima meter air akan keluar atau ditemukan aliran air terhubung ke tempat  lainnya.

Jadi hasil penelitian dan kajian para ahli perlu diungkap dan disebarluaskan kepada publik untuk mengantisipasi salah persepsi dan langkah mitigasi.  Tanah amblas berdampak kepada keamanan, lahan pertanian dan sumber air bagi masyarakat.  Hendak diapakan sinkhole tersebut setelah viral? (yan)         

 

 


 Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram

 

Padang, Beritaone—Meski pesimis, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram tetap menargetkan pertumbuhan ekonomi (PE) Sumbar 2026 bisa mencapai 4 persen.

“Kita agak pesimis, tapi mudah-mudahan bisa di angka 4 persen,” ujarnya saat  Media Briefing Awal Tahun 2026 dengan Tema: Overview Perekonomian 2925 dan Outlook Perekonomian 2026, di salah satu restoran di Padang, Senin (5/1).

Majid mengatakan, pada periode akhir 2025, diharapkan ada lonjakan permintaan pada momen Natal dan Tahun Baru. Namun karena terjadi bencana meteorologi permintaan jadi menurun.

“Sehingga kami melakukan revisi pada pertumbuhan ekonomi 2025, maksimal hanya 4 persen. Bahkan bisa lebih rendah di angka 3,3 persen,” ujarnya.

 Sementara untuk mencapai PE 4 persen tahun ini, BI berkomitmen ikut mendorong pemulihan lahan pertanian terdampak bencana dan UMKM agar bisa bangkit kembali.

“Yang utama harus dilakukan pemulihan. Terutama di sektor pertanian dan infrastruktur pendukung. Kemudian sektor UMKM. BI sendiri juga punya program pengembangan UMKM untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Kami juga akan mengajak lembaga-lembaga yang lain termasuk BUMN untuk sama-sama bekerjasama mengembalikan sektor UMKM, terutama di kabupaten-kabupaten, termasuk di Kota Padang untuk bisa bangkit kembali,” ujarnya.

Majid mengatakan, ini adalah tugas berat yang harus dipikul bersama untuk mencapai PE Sumbar 4 persen pada 2026.

Inflasi Ditarget 2,5 Persen

Mohamad Abdul Madjid Ikram mengatakan, inflasi Sumbar masih terkendali hingga Juli 2025. Namun, tren kenaikan mulai terjadi sejak Agustus seiring munculnya bencana akibat cuaca ekstrem.

Ia menjelaskan, cuaca ekstrem yang berlangsung hingga akhir tahun menyebabkan berbagai gangguan di sektor pangan. Terutama terjadinya gagal panen di sejumlah daerah dan naiknya biaya distribusi akibat bencana.  Kondisi tersebut kemudian mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas utama.

“Awalnya kenaikan terjadi pada beras, kemudian bawang merah dan cabai merah. Selain itu, harga emas juga mengalami kenaikan cukup signifikan,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga emas bahkan mencapai kisaran 15 hingga 20 persen, yang turut memberi andil terhadap laju inflasi Sumbar sepanjang 2025.

Meski demikian, Bank Indonesia optimistis tekanan inflasi pada tahun mendatang dapat lebih terkendali. Untuk 2026, inflasi Sumbar diproyeksikan berada pada kisaran sasaran nasional.

“Tahun 2026, kita harapkan inflasi Sumbar jauh lebih terkendali dengan proyeksi di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen,” katanya.

Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat terus mendorong berbagai langkah pengendalian, termasuk penguatan ketahanan pangan, kelancaran distribusi, serta sinergi antarinstansi untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Kredit Alami Kontraksi

Untuk penyaluran kredit perbankan per November 2025 mengalami kontraksi di tengah meningkatnya pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK).

“Hal ini terjadi baik pada sektor korporasi maupun rumah tangga. Risiko kredit sedikit meningkat namun tetap terjaga, tercermin dari rasio NPL di bawah nilai threshold 5 persen,” ujar Majid. (b)

 


Rusak: Kondisi rumah Hendri Syaputra, warga Kampung Apa Kelurahan Koto Panjang, Ikur Koto, Kecamatan Kototangah, Kota Padang pascabanjir  bandang akhir November 2025 lalu.

 

Langit mendung kini tak lagi dimaknai sebagai tanda turunnya hujan biasa bagi Hendri Syaputra, 40, warga Kampung Apa Kelurahan Koto Panjang, Ikur Koto, Kecamatan Kototangah, Kota Padang. Sejak banjir bandang melanda kawasan tersebut pada 27 November 2025 lalu, suara gemuruh sungai menjadi ancaman yang menumbuhkan kecemasan mendalam bagi warga yang tinggal di bantaran sungai.

Hendri mengenang, hujan memang telah turun hampir tanpa henti selama sekitar sepuluh hari sebelum bencana terjadi. Namun pada malam sebelum kejadian, debit air sungai masih tampak normal meski naik turun. Bencana justru datang secara tiba-tiba saat waktu Subuh.

“Kejadiannya tanggal 27 November, tepat saat Subuh. Air langsung datang dalam skala besar secara tiba-tiba,” ujar Hendri saat ditemui, Selasa (6/1).

Menurutnya, proses naiknya air hingga berubah menjadi banjir bandang berlangsung sangat cepat, hanya sekitar 15 menit. Derasnya arus membuat warga tidak sempat menyelamatkan harta benda.

Saat air mulai menerjang, Hendri sempat berupaya menyelamatkan mobil miliknya. Namun derasnya arus menghantam pintu dan jendela rumah hingga hancur. Ia pun memilih meninggalkan kendaraan dan menggendong anaknya untuk menyelamatkan diri ke rumah mertuanya yang berada tepat di belakang rumah.

Namun, rumah tersebut juga tak luput dari terjangan banjir. Dinding rumah jebol di sisi kiri dan kanan. Dalam kondisi darurat, Hendri bersama anak sulungnya terpaksa naik ke atas genteng untuk bertahan hidup.

“Lebih kurang lima jam saya di atas genteng, sampai sekitar jam 10 atau 11 siang baru air mulai turun setinggi paha,” tuturnya.

Setelah air mulai surut, tim SAR dan relawan mengevakuasi warga yang terjebak. Namun, sekitar satu jam kemudian, gelombang banjir bandang kedua yang lebih besar kembali datang dan menghancurkan permukiman di sepanjang tepi sungai.

Menurut Hendri, gelombang kedua menjadi yang paling merusak. Sekitar 17 hingga 25 rumah dilaporkan hancur total. Selain kerugian materi, bencana tersebut juga menelan korban jiwa. Tujuh orang dilaporkan meninggal dunia, dua di antaranya, seorang balita berusia 3 tahun dan seorang ibu lansia, hingga kini masih dinyatakan hilang.

Trauma mendalam pun membekas, terutama pada anak bungsu Hendri yang kini berusia 5 tahun. Saat kejadian, sang anak sempat terseret arus sejauh sekitar dua meter sebelum berhasil diselamatkan oleh pamannya. Sejak itu, anak tersebut menunjukkan ketakutan setiap kali melihat air atau berada di tempat tinggi.

Kondisi tersebut membuat Hendri dan keluarganya enggan menempati rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) yang disediakan pemerintah di belakang Kantor Camat Kototangah.

“Anak saya trauma, dia tidak mau tinggal di tempat tinggi seperti Rusunawa karena ingat kejadian itu. Jadi kami memilih kontrak sendiri demi ketenangan keluarga,” ujarnya.

Persoalan tempat tinggal menjadi masalah serius bagi warga terdampak. Sebagian warga mengungsi ke rumah kerabat atau menyewa rumah secara mandiri karena lokasi pengungsian dipenuhi warga dari berbagai daerah terdampak, termasuk dari Kuranji dan Lubukminturun.

Hingga kini, bantuan logistik seperti selimut, kasur, dan kebutuhan pangan terus mengalir dari masyarakat, perusahaan, dan relawan. Hendri mengaku bersyukur atas bantuan tersebut. Namun, ia menilai bantuan jangka pendek belum cukup menjawab kebutuhan masa depan warga yang kehilangan tempat tinggal.

Ia berharap pemerintah dapat lebih terbuka dan komunikatif terkait rencana relokasi atau penanganan kawasan terdampak. Hendri menginginkan adanya sosialisasi langsung kepada warga agar tidak menimbulkan kebingungan dan spekulasi.

“Kalau memang ada wacana dari pemerintah, tolong sosialisasikan dengan jelas. Kumpulkan warga, jelaskan secara terbuka supaya kami tahu apa yang harus dilakukan ke depan,” pungkasnya.

Harapan tersebut menjadi suara bersama warga setempat yang kini hanya mendambakan satu hal: hidup tenang tanpa rasa cemas setiap kali hujan turun. (yan)

 

 
 

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
IKLAN