Vieuw Sawah: Sesudut pemandangan di kampung Kotopulai Kecamatan Kototangah Padang, Sumbar dengan hamparan tanaman padi yang masih hijau.
Kotopulai, nama salah satu kampung di Kecamatan Kototangah Padang. Tepatnya kelurahan Kotopulai. Terletak di dekat sungai Lubuk Minturun. Jika dari Jalan Bypass Lubuk Minturun, pintu masuk kampung ini sebelah jembatan Bypass Lubuk Minturun belok kiri dari arah pusat kota.
Begitu menyusuri jalan aspal tak jauh dari pinggiran sungai, suasana damai sudah terasa. Jauh dari hiruk pikuk dan deru kendaraan yang memekakan t elinga. Di sepanjang tepi jalan ada terpasang tiang-tiang yang digantungi benda bertuliskan asmaul husna.
Terus ke dalam, terdengar deru air terjun dari bendungan Kotopulai. Beberapa waktu lalu sempat viral, disebut air terjun mini Niagara. Kerap dijadikan tempat mandi-mandi oleh warga dan spot foto yang indah.
Jika disisi kiri ada sungai, maka di sisi kanan terbentang sawah yang luas. Sejauh mata memandang, terlihat hamparan sawah yang hijau saat musim tanam dengan latar belakang bukit barisan yang biru.
Di sepanjang jalan berdiri rumah-rumah penduduk setempat. Tak banyak kompleks permukiman di sana. Kalaupun ada hanya agak ke ujung jalan saja. Jalanan aspal selebar lebih kurang 4 meter jarang macet. Sebaliknya lengang walau di jam-jam sibuk.
Melewati kampung ini, seperti melempar kita pada masa lalu di tahun 90-an. Saat teknologi belum lagi maju dan kendaraan hitungan jari di jalanan.
Mukhlis, 50, warga setempat mengatakan, sejak dulu suasana kampung tersebut memang tak banyak perubahan. Warganya hidup berdampingan dengan damai dan penuh kekeluargaan. Sebagian warga bermata pencaharian sebagai petani karena lahan sawah masih luas. “Warga mempertahankan lahan pertanian untuk bertanam padi,” ujarnya. Kalau pun ada perumahan yang berdiri, tidaklah banyak. Mukhlis berharap pemilik lahan sawah tetap mempertahankan tanah jadi lahan pertanian dan tidak dijual kepada pengembang untuk dijadikan perumahan.
Karena bisa mengurangi lahan sawah dan produksi padi. Akibatnya di masa depan beras semakin mahal harganya. Masyarakat tidak lagi bisa menikmati beras asli di lahan sawah sendiri. Karena beras yang beredar di pasaran sudah dioplos dengan berbagai jenis beras.
Hindra, 51, warga yang sering melewati kampung tersebut untuk menuju Pasie Nantigo memilih lewat sana selain jalannya cukup bagus, tidak pernah ada macet. Bonus pemandangan indah dan menyejukkan mata. (yan)


Posting Komentar