Angkat Ekonomi Sumbar, Percepat Pemulihan Sektor Pertanian Pascabencana
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram.
Padang, Beritaone--Bank Indonesia Sumatera Barat menilai bencana demi bencana yang melanda Sumbar berdampak besar kepada melambat pertumbuhan ekonomi Sumbar.
“Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat selalu berada di bawah nasional karena sektor-sektor utama terdampak bencana,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram, Rabu (28/1).
Menurut dia, sektor-sektor penopang utama seperti pertanian, industri, dan transportasi justru menjadi yang paling rentan ketika terjadi bencana alam. Akibatnya, setiap kali terjadi gangguan, pemulihan ekonomi berjalan lambat.
Majid menilai, ketergantungan besar terhadap pertanian membuat guncangan kecil sekalipun berdampak luas terhadap pendapatan masyarakat.
“Pertanian ini basis ekonomi masyarakat. Kalau ingin pertumbuhan ekonomi kembali setara nasional, sektor utama ini harus segera kita benahi,” katanya.
Dia mencontohkan dampak bencana banjir bandang pada 2024 yang belum sepenuhnya diikuti percepatan perbaikan infrastruktur. Kondisi tersebut berimbas pada melambatnya kinerja pertanian, meski sebagian subsektor seperti perkebunan masih tertolong kenaikan harga komoditas.
Memasuki 2025, bencana kembali terjadi dan lagi-lagi memukul sektor yang sama. Keterlambatan perbaikan jaringan irigasi dan infrastruktur pendukung dinilai berisiko menghambat musim tanam berikutnya.
“Kalau proses perbaikan terlambat, ini akan menjadi persoalan serius. Tantangannya adalah bagaimana memastikan pertanian bisa pulih tepat waktu,” ujarnya.
Karena itu, Bank Indonesia mendorong pembenahan struktural yang lebih terukur, mulai dari penguatan infrastruktur pertanian hingga pengembangan sumber pertumbuhan baru seperti pariwisata yang dinilai lebih cepat bergerak.
Namun, dia mengingatkan agar dorongan optimisme tetap dibarengi perhitungan realistis.
“Kita optimis untuk mengejar pertumbuhan, tapi juga realistis melihat kapasitas. Kalau tidak hati-hati, kita bisa kembali tertinggal di bawah nasional,” katanya.
Dikatakan, bencana yang terjadi di Sumbar berdampak ke banyak sektor. Beranjak dari hal tersebut, diharapkan bisa direncanakan pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan inklusif, sehingga di kemudian hari Sumbar bisa menjadi lebih tangguh lagi. (*)





