Latest Post


 

TERCEMAR: Kondisi air irigasi yang tercemar limbah di kawasan Bypass KM 9 Taruko, Kuranji, Sabtu (30/8) lalu.

 

Padang, Beritaone—Limbah yang dibuang ke saluran irigasi bisa mengancam petani dan lingkungan hidup. Apalagi limbah industri yang mengandung zat kimia berbahaya dan mengandung logam berat. Tidak saja berdampak buruk kepada tanaman dan habitat air tapi juga kepada manusia.    

Warga Kelurahan Kalumbuk, Kecamatan Kuranji, tepatnya di sekitar Bypass KM 9 Taruko, dihebohkan dengan perubahan warna air bandar irigasi yang biasanya jernih menjadi putih pekat menyerupai susu.

Kondisi ini sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir dan menimbulkan bau menyengat yang mengganggu warga.

Air yang biasanya dimanfaatkan petani untuk mengairi sawah dan kolam ikan kini sama sekali tidak bisa digunakan. Selain mencemari lingkungan, warga khawatir kondisi tersebut juga membahayakan kesehatan masyarakat sekitar.

Indra, 50, seorang petani yang tinggal dekat Bypass Taruko Kalumbuk, mengaku sangat terkejut dengan kondisi air irigasi tersebut. “Saya kaget, tiba-tiba air bandar berubah jadi seperti susu, baunya pun sangat menyengat. Mungkin limbah cat atau apa yang sengaja dibuang ke bandar,” ujarnya, Sabtu (30/8).

Ia mengatakan, saluran air yang biasanya dialirkan ke sawah dan kolam ikan terpaksa ditutup rapat agar tidak merusak tanaman padi maupun ikan. Namun pemilik kolam ikan terlambat menutup saluran air ke kolam ikan. Sehingga ada ikan yang mati mengapung Sabtu siang.

Indra sempat berusaha menelusuri sumber pencemaran ke arah hulu, tepatnya dekat Jalan Bypass Taruko yang banyak berdiri usaha cuci mobil dan mebel. Namun, tidak ada satupun pemilik usaha yang mengakui membuang limbah ke aliran irigasi tersebut. “Saya berharap pihak terkait turun menyelidiki,” kata Indra.

Menurutnya, pembuangan limbah sembarangan ke aliran irigasi tidak hanya merugikan petani, tapi juga melanggar aturan serta membahayakan lingkungan. “Ini tidak bisa dibiarkan karena masyarakat sekitar sangat bergantung pada irigasi ini,” tegasnya.

Karena itu Indra berinisitif melaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang.  Dan siangnya tim dari DLH pun datang meninjau lokasi.

Kepala DLH Kota Padang, Fadelan Fitra Masta, membenarkan adanya temuan limbah yang menyebabkan air berubah warna.

Ia menegaskan, pemilik bengkel diberikan waktu 14 hari untuk segera menindaklanjuti peringatan tersebut, baik dalam pengurusan izin maupun pembangunan IPAL. “Kami beri waktu dua minggu. Jika tidak ada tindak lanjut, tentu akan ada sanksi tegas,” tambahnya.

Namun keesokan harinya, Indra masih mendapati air irigasi bercampur limbah. Tapi warna tidak putih lagi. Namun agak kehitam-hitaman bercampur minyak dan baunya juga menyegat. Ia tak habis pikir, padahal sudah ditegur masih juga membandel. Indra berharap DLH menidaklanjutinya dan memberikan sanksi tegas jika pemilik bengkel membandel. (yan)

 


 Sepi: Sesudut pasar konveksi di SPR Padang yang sepi pengunjung pekan lalu,


Beritaone, Padang—Susahnya mendapatkan uang di tengah ekonomi sulit juga dirasakan oleh pedagang pakaian jadi di Sentral Pasar Raya (SPR) Padang. Parahnya, terkadang  berhari-hari tak ada yang membeli.

Hal itu dirasakan oleh Arnita, 50, penjual konveksi di SPR Padang. Kondisi tersebut sudah dirasakannya pascapandemi Covid-19 lalu. Orang belanja hanya kebutuhan pokok saja. Kalau beli baju paling jelang Lebaran dan anak masuk sekolah.

“Kalau hari-hari biasa, paling laku satu dua, pernah juga lima hari hanya terjual satu baju saja,” ujarnya Jumat (5/9).

Kondisi seperti itu menurutnya sudah biasa dialami pedagang konveksi. Saat sedang tak berjual beli, terpaksa makan modal dulu untuk biaya hidup sehari-hari. Ketika ramai, untung yang diperoleh ditabung. Mesti berhemat-hemat supaya modal tidak habis dan dapur tetap ngepul.

Menurut Arnita, kawan-kawannya sesama pedagang konveksi sudah banyak beralih ke usaha lain sejak pasar konveksi lesu. Namun sebagian tetap berrtahan karena tak tau mau usaha apa. Apalagi tidak punya modal untuk memulai usaha lagi.

Menurut dia, pengunjung SPR biasanya sudah tahu kalau barang-barang yang dijual di sana kualitasnya bagus dan koleksinya lengkap. “Umumnya barang didatangkan dari Jakarta dan Bandung. Kualitas dan modelnya bagus dan mengikuti tren. Harga juga terjangkau semua kalangan,” ujarnya.

 Makanya,  banyak kaum hawa yang berburu fashion di sana. Umumnya pegawai kantoran, mahasiswa hingga masyarakat biasa. Pada hari libur banyak pembeli berasal dari luar kota.

Arnita berharap, Pemko Padang bisa meramaikan lagi SPR dengan mengadakan iven-iven di Padang dan sekitar SPR. Sehingga banyak orang datang dan berbelanja. (yan)                                                            

 

 
Tren: Suasana Basko City Mal Padang cukup ramai pengunjung beberapa waktu lalu.
 

Suatu hari di akhir pekan, rombongan ibu-ibu memasuki sebuah mal baru di Padang. Berdandan bak anak muda. Pun, kelakuannya. Ceria dan ketawa-ketiwi sembari bercanda layaknya remaja. Tujuan pertama mereka, gerai pakaian. Lihat-lihat model, lalu tengok label harga. Dahi berkerut. Tak lama keluar dengan wajah cemberut.
Lanjut ke toko kosmetik. Muka ceria melihat aneka barang yang dipajang. Apalagi ada tester lipstik. Coba beberapa warna sembari senyum-senyum di cermin. Setelah liat harga diam saja.  “Ah, gak jadi beli, mahal,” ucap salah satu dari mereka, pelan.  Terus ke rak parfum. Lagi cobain tester. Pilih yang paling mahal, biar awet wanginya. “Harga kurang cocok di kantong kita,” bisik yang lain.
 
Setelah sekadar nanya-nanya ke pramuniaga yang cantik, wangi dan ramah, lantas ngeloyor keluar. Masih mengitari sampai ke lantai III mal. Apa saja yang ada di sana. Setelah penat, istirahat sebentar di bangku-bangku yang disediakan pengelola mal di beberapa spot. Belanja juga akhirnya. Tapi hanya 1 cup minuman untuk melepas dahaga. Itu pun pilih harga yang paling murah. Ya, begitulah “gaya hidup” kalangan menengah ke bawah.  Mereka hanya jalan-jalan saja ke mal sembari cuci mata dan lihat-lihat harga barang. Bosan di rumah terus. Walau tak punya uang tetap butuh hiburan dan kumpul sama teman.
 
Beranjak ke food court mal di bagian depan. Ternyata ramai. Hampir semua gerai kuliner kekinian tempat duduknya penuh. Walau harga di sini standar mal, ternyata tetap diminati. Mungkin mereka kalangan menengah ke atas. Uang jajan anaknya Rp 50 ribu ke atas sehari. Sehingga bisa nongkrong di resto mal berkelas. Terlihat juga rombongan keluarga, sosialita dan pekerja kantoran. Lahap menyantap makanan dan menyeruput minuman. Seperti tak ada beban.
Riri Rahmi, 40, perantau Minang di Jakarta menyempatkan diri menjajal mal di kampung halaman bersama suami dan anaknya. Kalau di Jakarta hampir tiap weekend keluarga kecilnya refresing ke mal sekalian kulineran. Mereka terbiasa makan di food court mal seperti warga Jakarta lainnya. “Kalau untuk belanja baju dan lainnya mending beli online, lebih murah,” ucapnya.                  
 
General Manager Basko City Mall, Robi Wiryawan mengatakan,  tren kunjungan ke mal memang dominan untuk makan, yakni 30 persen. Lalu, sebesar 25 persen cuci mata, 25 persen main bersama keluarga, dan hanya 20 persen yang belanja.  
Tren ke mal akhir-akhir ini sedikit bergeser. Tidak lagi untuk shopping. Tapi lebih untuk cuci mata, cek harga dan nanya-nanya saja. Sehingga muncul istilah Rojali (rombongan jarang beli dan Rohana (rombongan hanya nanya). Mal dijadikan tempat untuk rekreasi, melepas penat sembari cuci mata. Mal berfungsi untuk bersosialisasi, berinteraksi dan mencari kebahagiaan sesaat. Baik bersama teman maupun keluarga.
 
Rojali cenderung hanya berjalan-jalan, menikmati suasana, atau sekadar nongkrong, sedangkan Rohana lebih banyak bertanya-tanya tentang harga atau produk tapi akhirnya tidak jadi membeli. Fenomena ini mencerminkan tren perubahan perilaku konsumen di tengah tantangan ekonomi. Di kota-kota besar yang kekurangan taman kota, perpustakaan publik, atau pusat komunitas, mal mengisi kekosongan ini. Mal memiliki atribut yang sangat dibutuhkan: tempat yang aman, bersih, ber-AC, bebas polusi, dan dapat diakses kapan saja, tanpa biaya masuk.
 
Mal-mal di Jakarta dan kota besar lainnya sudah terbiasa dengan fenomena ini. Sejak ekonomi lesu, daya beli masyarakat juga jadi lesu. Untuk belanja fashion orang jadi mikir dua kali. Kalau tidak mendesak mengerem dulu untuk beli baju atau sepatu. Lebih baik uangnya ditabung. Menahan berfoya-foya di tengah kondisi ekonomi tidak menentu.
Pengelola mal pun sepertinya memahami kondisi. Tetap menyediakan fasilitas nyaman dan tempat duduk agar mal tetap ramai. Termasuk spot hiburan yang bisa diisi band-band lokal. Harus mengubah konsep mal sesuai perubahan gaya hidup dan kondisi kekikian.
Sedangkan penyewa gerai atau toko di mal menjadikan toko offline untuk memajang barang fisik. Mereka juga jualan online di marketplace agar tetap eksis.
 
Hanya saja, jika kondisi ini terus berlanjut karena banyak rojali dan rohana menandakan ekonomi tak bangkit-bangkit. Kesenjangan makin menganga. Yang kaya saja leluasa belanja. Si miskin bisa menelan ludah saja.
Harusnya pemerintah lebih arif dan bijaksana menyikapi kondisi yang ada.
Mereka yang berpenghasilan rendah umumnya bekerja di sektor informal, buruh dan pekerja swasta. Gaji hanya cukup buat makan. Kenaikan harga barang dan jasa makin membuat mereka tak berdaya. Wajar buruh demo menuntutkesejahteraan. Jangankan sejahtera, lepas dari segala pajak saja sudah lega rasanya. Sementara, DPR malah menaikkan gaji seenaknya. Pajak naik gila-gilaan pula. Di mana hati nurani mereka? (yan)
 
 
 
 

 

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
IKLAN