Latest Post


 Murah: Penjual jengkol dan petani di Pasar Bandaaie, Pasia Nantigo Kecamatan Kototangah, Padang.


Padang, Beritaone—Penyuka jengkol dan petai bisa tersenyum. Dapat memborong sepuasnya bila ke pasar. Saat ini harga dua makanan pencampur lauk dan palamak makan tersebut lagi murah karena sedang musim. Harga jengkol beberapa waktu lalu menyentuh Rp 12 ribu per 10 butir, sekarang 40 butir hanya dihargai Rp 10 ribu. Untuk kualitas bagus 30 butir Rp 10 ribu. Sedangkan petani juga turun, Rp 1.000- Rp 1.500 per papan. Seikat Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu.

Di pasar-pasar tradisional sampai warung sembako banyak ditemui petani dan jengkol. Salah satunya di Pasar Bandaaie, Pasie Nantigo Kecamatan Kototangah Padang. Mulai masuk pasar hingga ke kios ikan di pinggir pantai, banyak penjual jengkol dan petani. Petainya bernas, kalau orang Jawa bilang melotot saking bulat dan besar bijinya.

Jengkol yang dijualpun segar-segar habis dipanen. Bukan seperti biasanya banyak yang sudah tua, layu atau kurang bagus kualitasnya. Penyuka jengkol jelas ngiler dan beli banyak mumpung murah.

Neli, penjual jengkol di Pasar Bandaaie mengatakan, kalau lagi musim jengkol memang murah harganya. Ia menyebut jengkol yang dijual di pasar tersebut berasal dari Padangpariaman.

“Ini jengkol Pariaman. Lagi banyak keluar sekarang,” ujarnya. 

Minggu (9/11), ia membawa tiga karung jengol ke pasar tersebut. Belum pukul 11.00 siang sudah hampir ludes. “Saya jual murah saja. Paling murah 40 butir Rp 10 ribu,” ujarnya.

Ujeng, penjual petai juga kebanjiran pembeli. Ia menjual petani seikat Rp 15 ribu isi 10 papan petai. Kelihatannya bernas dan kulitnya tipis. Kata Ujeng petai Lubukminturun yang terkenal enak dan manis serta kulitnya tipis. Ada juga jenis petai beras, bijiya agak kecil-kecil.

Banyak pengunjung pasar terlihat menenteng kantong plastik belanjaan berisi jengkol dan juga petai.

“Mumpung lagi murah saya beli jengkol 100 butir dan petani 3 ikat,” kata Rani, seorang pembeli. (yan)

 


 Masih Mahal: Cabai merah hasil panen petani di Kuranji Padang siap dijual kepada konsumen.


Padang—Bulan Oktober, Sumbar kembali mengalami inflasi. Kenaikan harga cabai merah dan emas perhiasan pada  memicu inflasi Sumbar pada Oktober 2025. Di mana indeks Harga konsumen (IHK) Sumbar pada Oktober mencatatkan inflasi 0,45 persen (month to month/mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan, perkembangan inflasi pada Oktober 2025 dipengaruhi oleh peningkatan harga cabai merah dan emas perhiasan.

“Kenaikan harga cabai merah ini karena terbatasnya produksi lokal serta kelangkaan pasokan dari luar provinsi. Sementara itu, peningkatan harga emas perhiasan sejalan dengan penguatan harga emas acuan global. Di sisi lain, laju inflasi yang lebih tinggi dapat tertahan oleh penurunan hargabeberapa komoditas pangan, khususnyabawang merah,” ujarnya.

Majid memaparkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan inflasi 0,47 persen (mtm) dengan andil inflasi 0,16 persen (mtm). Harga cabai merah yang naik hingga 21,76 persen menjadi pemicu meningkatnya inflasi pada kelompok ini, disusul ikan cakalang dan daging ayam ras.

Sementara itu, laju inflasi lebih tinggi dapat tertahan dengan penurunan harga beberapa komoditas pangan, khususnya bawang merah. Membaiknya produksi lokal serta stabilnya pasokan dari sentra nasional membuat harga bawang merah turun 20,58 persen (mtm).

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 3,98 persen (mtm), dengan andil 0,21 persen (mtm). Kenaikan didorong oleh peningkatan harga emas perhiasan sebesar 13,99 persen (mtm) sejalan penguatan harga emas global.

Majid melanjutkan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar juga mendorong inflasi dengan andil 0,03 persen (mtm). Kondisi itu didorong oleh peningnkatan biaya sewa rumah, sejalan dengan berjalannya tahun akademik baru, terutama di perguruan tinggi swasta.

Secara spasial hampir seluruh kabupaten/ kota IHK di Sumatera Barat mengalami inflasi kecuali Kabupaten Dharmasraya. Kota Padang mencatatkan inflasi tertinggi yaitu 0,52 persen (mtm), Kabupaten Pasaman Barat 0,41 persen (mtm), Kota Bukittinggi 0,16 persen. Sementara Kabupaten Dharmasraya mengalami deflasi 0,20 persen (mtm).

“Secara kumulatif, perkembangan harga di Sumatera Barat hingga Oktober 2025 adalah sebesar 3,87 persen (year to date/ytd), melampaui batas atas sasaran inflasi 2,5±1 persen,” ujarnya.

Untuk menekan inflasi, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat perlu penguatan strategi stabilisasi harga pangan agar tetap terkendali dan berada dalam rentang sasaran.

Menurut Majid, TPID perlu menjaga kecukupan pasokan di masing-masing daerah, salah satunya dengan memmperkuat kerja sama antar daerah. Kemudian, melakukan intensifikasi gerakan pangan murah (GPM) di lokasi yang tepat sasaran dengan menjual komoditas pemicu inflasi, terutama cabai merah.

Kemudian, memperkuat komunikasi public yang efektif melalui penyebaran informasi jadwal pasar murah (GPM) se-Sumatera Barat melalui berbagai media, baik media massa maupun media sosial. Perlu juga memperkuat koordinasi pengendalian inflasi antar instansi melalui rapat TPID yang lebih intensif di tingkat provinsi dan kabupaten/ kota.

“Dengan sinergi berbagai pihak yang terus diperkuat, TPID Sumatera Barat optimistis program pengendalian inflasi pangan akan berjalan efektif. Komitmen ini terus dijaga untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam rentang 2,5±1 persen (yoy) pada keseluruhan tahun 2025,” tutupnya. (yan)


 

Lesu: Toko Mebel Vina Jepara di kawasan Jati Padang menjual aneka mebel jati jepara.

 

Padang, Beritaone- Penjual mebel jati jepara mengeluhkan sepinya pembeli. Berhari-hari tidak ada transaksi. Saking sepinya jangankan membeli, mau singgah dan melihat-lihat saja orang ke toko sudah disyukuri.

Pemilik Toko Plaza Mebel Vina Jepara di kawasan Jati Padang, vina, mengaku lesunya jual beli lebih parah dalam setahun ini dibanding sebelumnya.

“Kalau saat covid memang kita paham penurunan daya beli, tapi setelah covid tidak banyak perubahan, bahkan tahun ini lebih parah lagi,’ tutur Vina di tokonya pekan lalu.

Vina memprediksi, anjloknya minat beli masyarakat karena ekonomi yang tak kunjung membaik.

“Sepertinya karena faktor ekonomi yang lagi lesu. Orang lebih mengutamakan kebutuhan pokok dan biaya sekolah anak dibanding beli mebel,” ujarnya.

Maraknya penjualan mebel jati secara online, kata Vina, turut berpengaruh kepada toko offline.

Apalagi produk mebel jati yang ditawarkan juga bersaing harganya. Padahal menurut Vina, kualitasnya belum tentu bagus semuanya. “Di pasaran juga banyak produk jati, ada juga jati dari Medan,’ ujarnya.

 Vina yang khusus menjual mebel jati jepara mengatakan, mebel jati dijualnya didatangkan langsung dari Jepara, Jawa Tengah dalam bentuk setengah jadi. Lalu dirakit oleh perajin asli daerah setempat sebelum dijual. Untuk satu set kursi tamu harganya mulai Rp 8, 5 juta, kursi teras Rp 3,5 juta, meja makan rp 8,5 juta, almari juga rp 8,5 juta sedangkan kamar set Rp 21 juta tanpa spring bed.

Vina berharap kondisi ekonomi segera membaik dan daya beli masyarakat meningkat. “Kalau terus-terusan seperi ini bisa-bisa toko tutup, karena tidak sebanding penjualan dengan biaya operasional,” ujarnya.

Sejak penjualan merosot ia terpaksa mengurangi karyawan. Saat ini hanya ada dua karyawan saja di toko merangkap sopir dan tukang angkat barang. Untuk menjaga toko ia berdua dengan suaminya.

Vina juga menyebut, sebelumnya pelanggannya kebanyakan PNS dan instansi pemerintah. Tapi belakangan semakin berkurang dan hanya sesekali beli mebel. “Mungkin pengaruh efisiensi anggaran pemerintah ada juga,” tebaknya. (yan)

 

 

I

 

Ikan segar yang baru turun dari bagan nelayan di pantai Pasie Nantigo Kecamatan Kototangah Padang, Minggu (26/10).


Padang--Cuaca ekstrem yang terjadi di Padang beberapa hari terakhir nenyebabkan harga ikan di pasaran masih mahal.
Minggu pagi (26/10) harga ikan di sejumlah pasar tradisional di Padang terpantau mengalami kenaikan. 
Ikan gambolo aceh Rp 50 ribu per kilogram  ikan tongkol Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu per kilogram. Sedangkan ikan teri Rp 30 ribu per kilogram
Andra, penjual ikan di pasar Bandaaie Pasie Nantigo mengatakan sejak beberapa pekan ini harga ikan tak turun turun. 
"Penyebabnya cuaca buruk, badai sehingga nelayan sulit melaut,"ujarnya.
Ani, seoarang pembeli hanya mampu beli 1/2 kilogram ikan gambo aceh. 
" Ikan nahal, saya hanya beli setengah kilo aja ikan gambolo aceh," ujarnya.
Sementara ikan yang musom minggu kemarin dominan gambolo aceh. Hanya sefikit ikan jenis lainnya. (yan)

Siap panen: Seorang petani sedang melihat tanaman padinya yang sudah menguning di kawasan Kuranji, Padang, Sumbar beberapa waktu lalu.


Harga Pupuk Turun 20 Persen, Petani Cukup Senang

Padang,Beritaone—Pemerintah menurunkan harga pupuk sebesar 20 persen Rabu (22/10). Tidak saja pupuk kimia tapi juga pupuk organik.

Kebijakan yang diluncurkan pada momen setahun pemerintahan Prabowo-Gibran ini disambut gembira petani. Salah satunya, Muas, 55, di Kuranji Padang.

Ia mengaku, selama ini ongkos bertani paling mahal itu pupuk. Terkadang juga sulit didapat.

“Syukurlah, kalau harga pupuk turun walau hanya 20 persen. Setidaknya bisa mengurangi biaya beli pupuk,” ujarnya Rabu (22/10).

Muas mengaku, sebesar 60-70 persen, ongkos bertani itu untuk beli pupuk. Makanya, ketika menjual hasil panen disisihkan dulu modal untuk menggarap lahan musim tanam berikutnya.

Selain subsidi pupuk, ia juga berharap ada bantuan benih unggul dan bantuan mesin seperti bajak mesin dan mesin panen. “Paling tidak ada juga mesin gratis untuk membajak dan memanen padi,” ucapnya.

Selain menanam padi, ia juga menyelingi lahan sawah dengan tanaman holtikultura seperti cabai, jagung, kacang panjang, kacang tanah dan terong. Semuanya butuh pupuk agar tumbuh maksimal dan berbuah lebat.

“Kalau pupuknya kurang apalagi cabai maka buahnya akan sedikit. Batangnya kurang bercabang,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah Prabowo terus memberikan perhatian dan bantuan kepada petani agar petani semangat menggarap lahan. (yan)

Sumber air: IPA Gunungpangilun memanfaatkan air baku dari sungai Batang Kuranji. Tahun 2026 IPA tersebut akan direnovasi karena kondisinya memprihatinkan pascagempa 2009 lalu.

 

Padang, Beritaone—Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gunungpangilun yang berdiri sejak tahun 1957 rusak diguncang gempa 2009 lalu. Meski masih tetap beroperasi sampai kini, namun kondisi bangunannya sudah tidak layak dan dinding banyak retak. Butuh direnovasi. Tapi jika diperbaiki, IPA akan stop beroperasi sampai perbaikan selesai. Akibatnya distribusi air ke pelanggan akan terhenti juga. Hal itu jelas tidak bisa dilakukan. Karena air adalah kebutuhan dasar masyarakat sehari-hari.

Harus ada solusi agar air tetap mengalir dan renovasi bisa dilakukan. Caranya mengalirkan air dari IPA lain ke IPA tersebut lalu didistribusikan kepada pelanggan terdampak perbaikan IPA. Itu bisa diwujukan jika IPA Taban 3 selesai dibangun dan beroperasi. Ainya akan dialirkan melalui pembangunan perpipaan sepanjang 18 Km dari Taban ke simpang Alai dan nantinya terhubung ke IPA Gunungpangilun.

Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Padang Hendra Pebrizal mengatakan, IPA Gunungpangilun pascagempa 2009 meski tetap beroperasi tapi kondisinya sangat memprihantinkan.

Hendra Pebrizal memaparkan restorasi IPA Gunungpangilun. Ada beberapa yang akan ditingkatkan, pertama pembaharuan, teknologi, peningkatan kapasitas, perbaikan infrastruktur dan keberlangsungan lingkungan.

“Ini bisa kita perbaiki 250 kali 2 sama dengan 500 liter per detik. Kalau kita perbaiki, airnya harus kita matikan. Ada sekitar 50 ribu pelanggan atau sekitar 200 ribu warga yang akan kehilangan air. Ini harus kita perbaiki, tapi harus ada penopangnya,” ujarnya dalam ekspose saat kunjungan anggota DPR RI Zigo Rolanda ke IPA Gunungpangilun, Selasa (7/10).

Penopang dimaksud adalah mengalirkan air dari IPA Taban yang akan dibangun 2026 mendatang dengan anggaran 308 miliar bantuan dari pemerintah pusat.

“Nah itu nanti akan dibangun pipa sepanjang 18 kilometer dari IPA Palukahan ke simpang Alai. Setelah air mengalir, baru IPA Gunungpangilun kapasitas 250 liter per detik kita stop, 250 liter per detik tetap jalan dan ditopang dari Taban 250 liter per detik. Kemudian IPA kapasitas 250 liter per detik kita perbaiki dengan dana PDAM sendiri,” ujarnya.

Hendra mengatakan setelah selesai perbaikan IPA 250 liter per detik, barulah beralih ke IPA kapasitas 250 liter per detik satu lagi.

Pihaknya mengucapkan terima kasih atas dukungan Anggota DPR RI, Zigo Rolanda dan Wali Kota Padang Fadly Amran. Karena sudah sekian lama berjuang untuk mendapatkan bantuan untuk pembangunan IPA Taban 3 baru sekarang terwujud dengan nilai yang fantastis Rp 308 milia. (yan)


 

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
IKLAN